Laman

Selasa, 24 September 2013

INGIN DIINGINKHAN :)

Hari-hari ini, beberapa daripadaku telah tampak tak kasat mata di kepunyaanmu. Di saat aku ingin menjadi satu-satunya titik yang kaupandang lekat-lekat, kenyataan menjawabnya dengan pahit yang teramat pekat. Sebab, yang ada padaku memang tidak untuk menjadi sesuatu yang menarik perhatianmu. Teriakan yang tak terdengar, atau kamu memang enggan menoleh lalu sadar. Keberadaan yang tak terlihat, atau kamu memang enggan untuk kita menjadi terlalu dekat.
Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Kukira mencintai lewat mimpi tak akan pernah senyata ini, kecuali padamu.
Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.
Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau kedekatan memang tak pernah kauinginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati.
Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku. Bisa jadi, di suatu saat yang kelak, kamu menemui nyaman di hangat pelukku. Tetapi, bisa juga tidak.
Meski yang mereka lihat ialah bahwa aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha. Barangkali di suatu waktu yang entah, kamu akan mendengar. Barangkali di suatu titik yang entah, aku akan terlihat. Atau barangkali sebelum semuanya itu terjadi, rasa yang ada justru telanjur pergi.
Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan. Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat. Semoga pada saat itu, segala sesuatunya belumlah terlambat.

Mungkin BAHAGIAKU ialah MELUPAKANNYA

Sampai kapan kamu akan begini? Membolak-balikan perasaanku seenakmu, mempermainkan hatiku dengan mudah. Sekarang kita memang sedang terikat dalam suatu hubungan, namun aku merasa sosokku slalu kau sembunyikan dari semua orang di sekitarmu. Kenapa? Apa kamu malu mempunyai kekasih sepertiku? Kamu takut sahabat-sahabatmu mengejekmu? Apa yang salah? Katakan! Apa semua temanmu tidak menyukai adanya perbedaan? Atau bahkan kamu sengaja menyusun rencana agar membuatku jatuh cinta dan kemudian merasakan sakit?

Jujur aku sangat kecewa dengan semua ini. Aku sakit? Tentu. Aku menangis? Itu pasti. Namun kenapa kamu tidak pernah merubah atau paling tidak menyadari bahwa sikapmu slalu membuatku merasa tak berarti? Kamu slalu buat aku merasakan ‘apa itu sakit’, bukan ‘apa itu bahagia’. Kenapa dulu kamu memberikanku harapan jika akhirnya mempermainkan? Kenapa kamu bilang sayang bila akhirnya menyakiti?

Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu yang lebih darimu, aku hanya mengharapkan kamu memberi sayang dan cintamu padaku tulus, seperti aku memberi sayang dan cintaku padamu. Aku tidak akan meminta uangmu atau hartamu sedikitpun, Tidak! Aku mencintaimu, sebagimana dirimu. Tapi, kenapa memberikan hal yang seharusnya mudah saja kamu tak mampu, memberi cinta dan sayangmu pun kamu tak bisa! :”( Apa karena hatimu masih terkunci oleh sosok mantanmu? Apa karena dia lebih cantik dan lebih dewasa dariku? Lantas kenapa kamu menjalin hubungan denganku, sedangkan disisi lain kamu diam-diam masih merindukan dia, masih merindukan orang yang telah menyakitimu, masih memikirkan dia yang telah membuatmu jatuh, masih saja setia memantaunya dari jejaring sosial, jangan kira aku tak tahu semua yang kamu lakukan :’)

Sudah berulang kali aku berusaha menyadarkanmu, bahwa dia hanya sosok yang telah menyia-nyiakanmu, dia yang dengan tanpa dosa pergi jauh, disaat kamu membutuhkan tempat berteduh ketika badai datang! Tapi kenapa kamu masih terus mengingat dia? Kenapa kamu masih kekeh untuk memuja dia? Terlebih hobimu yang slalu membandingkanku dengan nya! Aku sama sekali bukan dia! Mungkin dia memang luarbiasa, dia tak secengeng aku, tak seperasa aku, tapi akupun bisa luarbisa dengan jalan yang aku pilih sendiri.

Mungkin menurutmu aku tak sama dengannya, memang! Tak akan pernah sama dengannya. Mungkin menurutmu aku terlalu cerewet. Tapi, aku begini karena aku menyayangimu, aku tak ingin kamu terjatuh lagi, aku ingin menjagamu. Menurutku, wajar saja aku cemburu padamu, menanyakan semua aktivitasmu. Akupun tak ingin mengekangmu, aku tidak melarangmu untuk bergaul dengan wanita manapun, hanya saja aku ingin kamu menjaga semua kepercayaanku, cukup itu :’( tidak bisakah kamu mengerti sedikit saja yang aku rasakan? Aku slalu berfikir jernih bahkan saat kamu tak mengabariku, walaupun sebenarnya aku benci kehilanganmu saat aku benar-benar membutuhkanmu. Ah, menurutku kamu terlalu egois untuk memasukan dia, memasukkan masalalumu dalam kehidupanmu sekarang, apalagi dalam kehidupan cinta kita. Apa yang kamu lakukan sangat tak adil bagiku! Jelas-jelas ini akan semakin membebaniku :’( Kalau begitu, kenapa kamu tidak kembali saja padanya? Kenapa kau masih denganku disaat kau terus-menerus memuji dia?

Sudahlah! Kini aku terlalu lelah untuk membuatmu mau berubah. Aku terlalu lama membuang waktuku hanya untuk menunggumu melupakan mantanmu itu. Aku terlalu muak selalu dibandingkan dengan seorang yang bahkan tak aku kenal itu. Mulai detik ini, biarlah aku jatuh cinta pada seseorang selain kamu, yang akan slalu megutamakanku dalam berbagai hal, yang takkan menyembunyikanku dari orang-orang disekitarnya.

***
Tuhaaaan, inilah akhirnya… akhir yang sangat tidak indah. Kemarin memang aku slalu berusaha sabar, namun sekarang adalah puncak kesabaranku. Aku tak bisa menahan lagi semua sakit ini. begitu banyak hal yang mendorongku untuk mundur, menghapus segala perasaanku padanya. Hatiku sudah letih dengan semua ini :’( Aku lebih memilih menyerah, aku ingin pergi darinya Tuhan :’( aku menyesal… aku menyesal karena aku tak bisa membuatnya melupakan masalalunya. Namun sudahlah, aku tau semua rencana-Mu indah walaupun itu adalah sebuah perpisahan. Aku pergi karena aku ingin merasakan bahagia, bahagia karena mencintai dan dicintai, bukan hanya mencintai tanpa diberi cinta seperti ini. Mungkin, bahagiaku adalah melupakan dia… maka bantulah aku untuk terus mencoba melalukan itu Tuhan J. Terimakasih, Engkau telah tunjukan bagaimana dia sebenarnya. Dia memang bukan lelaki terbaik untukku, mungkin semua sakit ini akan mendewasakan hatiku Tuhan, sekali lagi terimakasih :’)

“Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi, percayalah semua kejadian ini adalah anugrah terbaik yang telah Tuhan berikan pada kita :’)“

WithLove,

CINTA YANG MELUASKAN

Sudah seberapa jauh kaupergi?
Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?
Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?
Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.
Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit. 
Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega. 
Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu.  Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu. 
Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?
Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.
Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.
Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.
Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan. 
Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.
Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.
Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku. 
Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.
Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.
Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.
Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?
Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?
Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.
Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat. 
Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.
Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar. 
Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.
Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?
Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan. 
Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci. 
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya. 
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu. 
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.


CINTA




Kau bosan bicara cinta?
Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.
Kenapa?
Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.
Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.

AKHIR

Aku selalu bersyukur setiap sebuah akhir datang. Bukan hanya akhir dari sebuah penderitaan atau kesialan, tapi juga akhir dari sebuah kebahagiaan. Kata siapa bahagia tak mengenal akhir? Bahagia harus berakhir, karena yang lebih dari sekadar bahagia akan datang ketika bahagia itu sendiri pergi.

Akhir adalah awal dari dari sesuatu yang baru. Tanpa akhir, tak akan ada cerita baru yang ditulis, kehidupan baru yang dirayakan. Akhir, sama halnya dengan awal, adalah suatu keharusan.

Tunas yang baru tak akan pernah tumbuh jika tak ada daun kering yang mati dan jatuh.

Di sini akhir dari segalanya.
Di sini yang baru akan segera dimulai.

Menjadi tidak sempurna itu,, BAIK @falafu

Ini tentang menjadi diri sendiri. Tentang seberapa berartinya dirimu, bagi dirimu sendiri. Tentang seberapa sakitnya selalu mencoba menjadi orang lain.
Ini tentang menjadi diri sendiri. Tertawa karena memang sesuatu itu lucu dalam arti sebenarnya. Menangis karena memang sesuatu hal menyakitkan untuk disaksikan. Tentang seberapa sakitnya, selalu mencoba bahagia dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

Kurasa tidak ada seorang pun di dunia ini, yang tidak pernah berusaha menjadi orang lain untuk sekedar diterima. Untuk sekedar dikenali keberadaannya.
Tidak ada yang pernah mengatakan, menjadi diri sendiri itu mudah, tapi tidak ada pula yang pernah menjanjikan, menjadi orang lain itu tidak sulit.

"Mereka selalu punya sesuatu yang tidak kita miliki." Selalu, dan selalu akan seperti itu. Karena itu janji Tuhan, yang menciptakan kita dalam keberagaman. Itu mengapa akan selalu ada, hidung yang lebih mancung, mereka yang lebih tinggi, matanya yang lebih besar, kulit seseorang yang lebih bersinar, rambut siapa yang
lebih indah.

Selalu akan ada yang selalu terlihat lebih baik.
Walau sebenarnya tidak akan pernah ada yang sesempurna "kelihatannya".
Percayalah.
Itu mengapa, saya selalu mengatakan bahwa, Menjadi tidak sempurna itu, BAIK.
Memberi kita pelajaran, bahwa tujuan hidup ini bukanlah mengejar "KESEMPURNAAN" tetapi menjadi "BAIK" disetiap keterbatasan yang kita hadapi.

SESEDERHANA ITU .... @falafu

Hubungan itu harus dilandasi rasa nyaman dan percaya. Sesederhana itu.~ Iko uwais
***


Saya sudah pernah bertemu yang cemburuan, atau yang cuek bukan kepalang.
Tapi saya pun pernah menemukan dia yang percaya saya sepenuhnya, seutuhnya. Lalu akhirnya saya ingin selalu menghabiskan waktu bersamanya. Selamanya kalau boleh.
Sepasang kekasih, adalah sepasang teman baik. Seharusnya dia bisa menjadi seseorang, yang sayangnya tidak mengintimidasimu. Yang mampu membuatmu nyaman dengan dirimu sendiri. Dan yang kamu tahu dia jujur, tanpa perlu kamu curigai.
Sesederhana itu.


Selamat jatuh cinta, kamu.

TERBIASA


Mungkin memang benar, kalau membenci dan menyayangi seseorang itu hanya perlu terbiasa saja. Terbiasa diperhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa dikecewakan maka lama-lama pun bisa tumbuh kebencian. Karenanya harus pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama ini. Jangan sampai terlalu sayang, pun jangan sampai terlalu benci. Karena segalanya, baik benda atau pun manusia. Baik luka atau pun cinta, bisa tiba-tiba hilang begitu saja dari pandanganmu.

BAHAGIA ITU....:)

Bahagia itu sederhana,
Meneleponmu dan mendengarmu bahagia menerima panggilanku.
Bahagia itu sederhana,
Menonton kartun kesukaanku Larva
Bahagia itu sederhana,
Punya cukup buku bagus untuk dibaca
Bahagia itu sederhana,
Mendengar sebuah permintaan tolong datang padaku, hingga aku merasa diriku cukup berarti untuk orang lain.
Bahagia itu sederhana,
Setiap kali selesai membersihkan tubuh ibuku dan memastikannya perutnya kenyang.
Bahagia itu sederhana,
Bila aku tahu rinduku cukup untuk memaafkan semua kesalku padamu.
Bahagia itu sederhana,
Seseorang rela repot menghubungi dan bertanya tentang seberapa banyak aku tersenyum hari ini dan apa aku cukup bahagia.
Bahagia itu sederhana,
Menertawakan leluconmu, karena kamu masih punya waktu untuk sekedar menceritakannya.
Bahagia itu sederhana,
Langit biru manja di pukul setengah sembilan pagi.
Bahagia itu sederhana,
Ketika aku tak sendirian saat menceritakan bahagiaku.
Karena masih ada matamu yang mau menemani membaca ini.

HILANG - @falafu

  • Aku tahu bahwa apa yang kuyakini saat ini tentang dirimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang menyenangkan dan membuatku hidup. Hidup dengan terus dapat berada di sampingmu.
  •  
  •  
  •  
  • Ya, walau pun semua orang mengatakan bahwa aku gila. Bahwa cinta ini cinta gila. Bahwa sayang ini tidak masuk akal. Bahwa kamu tak pernah pantas untuk wanita baik-baik sepertiku. Bahwa pada akhirnya aku tetap tidak mau perduli – bahwa kita memang berbeda.
  •  
  •  
  • Tapi bukankah sejak dulu aku mencintaimu karena kita berbeda. Karena kamu memiliki apa yang tidak kumiliki, perbedaan yang memberi kita kesempataan untuk memahami banyak hal yang sebelumnya tidak kita pahami, yaitu tentang memiliki dan kehilangan.
  •  
  • Lihat, bagimana aku sedang menyangkal perbedaan yang semakin nyata di antara kita Kian. Lihat, betapa mencintaimu menjadi satu-satunya caraku bertahan hidup. Stupid me!


Senin, 09 September 2013

Arti cinta sesungguhnya ^^

apa itu cinta? Bila telapak tanganmu berkeringat. Hatimu dag dig dug. Suaramu bagai tersangkut di tenggorokan. Itu bukan cinta. Tetapi SUKA.. Bila tanganmu tak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya. Itu bukan cinta. Tetapi BIRAHI.. Bila kamu menginginkannya. Karena tau dia akan selalu berada di sampingmu. Itu bukan cinta. Tetapi KESEPIAN.. Bila kamu menerima pernyataan cintanya. Karena kamu tak mau menyakiti hatinya. Itu bukan cinta. Tetapi KASIHAN.. Bila kamu bersedia memberikan. Semua yang kamu sukai demi dia. Itu bukan cinta. Tetapi KEMURAHAN HATI.. Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya Kepada semua orang. Itu bukan cinta. Tetapi KEMUJURAN.. Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah Satu-satunya hal yang kamu pikirkan. Itu bukan cinta. Tetapi GOMBAL.. Kamu menCINTAI'nya. Ketika kamu menerima KESALAHAN dia. Karena itu adalah bagian dari kepribadiannya. Ketika kamu rela memberikan HATIMU, KEHIDUPANMU, Bahkan KEMATIANMU.. Ketika Hatimu TERCABIK bila dia SEDIH. dan BERBUNGA bila dia BAHAGIA. Ketika kamu MENANGIS untuk KEPEDIHAN'nya. Biarpun dia cukup tegar menghadapinya. Ketika kamu TERTARIK kepada orang lain. Tetapi kamu masih SETIA bersamanya. CINTA adalah PENGORBANAN; MenCINTAI berarti memberi DIRI. CINTA adalah KEMATIAN atas Egoisme dan Egosentrisme. Kadang itu menyakitkan. Tetapi itulah harga yang harus dibayar. Untuk sebuah CINTA.. Awal dari cinta adalah. Membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan.. Tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak. Kita hanya mencintai pantulan diri sendiri. yang kita temukan di dalam dirinya.. Apakah Itu Cinta?

KEJORA DAN KUNANG KUNANG

Menghitung bintang tak kan pernah usai, setiap kali mencoba lebih keras lagi kali itu pula hitungan kembali ke awal. Semula. Kembali menjajarkan rasi yang telah berhamburan. Tapi Kejora tak pernah lelah. Tak pernah bosan. Menengadah dalam gelap, menunjuki bintang satu satu hingga seribu walau beberapa kali harus kembali ke satu. Kejora tetap setia menghitung bintang. Aku belum ingin meninggalkannya, aku suka melihat wajahnya yang bersinar dalam gelapnya malam. Cahaya ribuan bintang yang telah dihitungnya menyatu di wajahnya yang manis. Ujung gaunnya yang putih menari bersama angin yang sesekali mampir menciumi pipi Kejora yang putih. Membuatku cemburu. Karena tak pernah punya keberanian seperti angin. Aku juga ingin merasakan lembutnya. Putihnya Kejora. “Sepi… Malam telah merangkak jauh, dingin mengajakku bercinta namun aku masih ingin menghitung bintang. Kunang-kunang sudikah kau menemaniku?” dendang Kejora. Aku berputar-putar di antara helai-helai rambut legamnya, menyesapi wangi yang melekat di sana. Kejora memang tiada duanya. Tak ada yang tak indah dari pandanganku terhadapnya. Sejak lama indah itu tergambar jelas di mataku. Di hatiku. “Apa yang ada di pikiranmu Kunangku? Mengapa kau diam saja malam ini?” bisiknya lembut. “Masih sama seperti malam-malam kemarin Kejora.” “Ujarkanlah padaku Kunang” senyum dan genit kedipannya menggodaku. “Ini tentangmu Kejora, maaf.” “Aku??? Mengapa denganku Kunang?” “Tak bosankah kau? Menghitung bintang di sepanjang malam yang kau miliki.” “Apa kau bosan menemaniku?” Wajah Kejora sedikit memerah, aku tak suka. Aku benci, mengapa membuatnya seperti itu. Seharusnya tak kukatakan. Seharusnya kusimpan saja sendiri pertanyaan yang kurangkai di malam-malam panjang Kejora menunjuki bintang-bintangnya. “Maaf Kejora…” Kejora terdiam, ia tak lagi menengadah pada langit legam yang bergambar rasi Capricornus. Aku ingat ini Desember ke delapan. Sewindu Kejora melihat aku sebagai sahabat malamnya yang setia mendengarkan hitungannya yang tak pernah usai. Tapi tak sekali pun ia melihat sesuatu yang lain tentangku. Tentang rasaku. Kekagumanku. Cintaku. Padanya. Kejora. “Pulanglah Kunang, biarkan aku sendiri. Aku masih ingin menghitung bintang. Menyelesaikan hitunganku yang belum usai.” akhirnya Kejora memecahkan kebisuannya. Dengan suara yang mulai serak. Tanpa menolehku ia kembali menengadah pada legamnya langit. “Aku tak kan meninggalkanmu sendiri berbaur dengan malam yang pekat.” “Tapi kebosanan telah mementahkan keinginanmu menemaniku Kunang.” “Kejora, seperti itukah yang kau pahami tentangku?” “Entahlah Kunang, kau terlalu berahasia padaku. Bahkan sewindu sepertinya kurang untukku membuatmu berkata tentang dirimu, kau hanya sibuk memahamiku tanpa pernah memberiku kesempatan berlaku sebaliknya.” baru kali ini Kejora berujar sebanyak itu. Aku takjub ternyata ada banyak kata yang belum pernah kudengar darinya keluar malam ini. Beberapa kali terlihat kejora menghela nafas yang tak seirama. Aku merasa berdosa merusak malamnya kini. Senyuman yang kupuja terusir dari wajah yang mirip rembulan dengan sinaran teduh dari dua bola matanya. Aku menyesal tak sanggup menahan diri. Mengapa tak kubiarkan saja tanya itu berkeliaran dalan hatiku saja. Toh selama ini aku pun setia meninabobokan tanya itu. “Kejora maafkan aku.” “Tak perlu Kunang.” “Tak sudi kau maafkan?” “Kubilang tak perlu, kau tak salah. Wajar saja bila kau bosan menemaniku menjaga malam.” “Tiada kata bosan ketika bersamamu Kejora.” “Lalu apa? Bukankah tadi kau berujar tentang kebosanan menghitung bintang?” “Aku hanya ingin membuka kotak di kepalamu Kejora, bukankah ada banyak hal yang bisa kita lakukan selain menghitung bintang?” “Hitunganku belum selesai Kunang.” “Jangan memaksakan diri, bukankah jagat langit terlalu luas untuk kau geledah sambil menunjuki bintang satu-satu.” “Ini takdirku Kunang.” “Kau sendiri yang menciptakannya Kejora, bukan takdir.” “Ini janjiku pada kenangan.” “Tapi kenangan tak kan pernah datang lagi menanyakannya kejora, ia menipumu.” “Cukup kunang, aku tak peduli ia akan datang atau tidak. Aku hanya ingin menyempurnakan janjiku. Aku tak ingin ingkar dengan dengan lisanku. Lisanku adalah pintu dari setapak hatiku. Dan aku tak ingin hatiku menjadi tak setia dengan membiarkan janjiku tak terpenuhi. Dan aku selama ini pikir kau paham itu kunang.” “Tapi bukankan ini kesia-siaan kejora, melakukan sesuatu untuk sesuatu yang tak pasti.” “Tak ada yang sia-sia kunang, karena aku melakukan dengan hatiku.” Masih saja ia tak terusik dengan hitungannya. Lirih aku mendengar baru saja ia kembali ke angka satu. Namun hitungannya masih sama iramanya dengan malam-malam yang telah lewat. Ada kesabaran dalam nadanya. Ada keikhlasan di helaan nafasnya. Sungguh setianya tiada bandingan. Seandainya saja itu untukku, jiwaku tiada segundah ini. Malam merangkak kian jauh hingga kepuncak yang pekat. Dingin semakin menggila menggelitik di pori-pori kulit mulus Kejora. Tapi kejora tetap bergeming. Masih setia. Pada bintang-bintangnya yang mulai tidur satu satu. Di sudut langit kulihat bulan menguap, terkantuk-kantuk meronda kegelapan. Cahayanya kadang meredup di antara halimun yang mulai turun. Api unggun yang membara semalaman hampir menjadi abu, hanya sisa percikan anak-anak api sesekali berlompatan. Kata-kata menjadi bisu, terdiam dan hampir tertidur di benakku. Tak mampu lagi membela diriku di hadapan Kejora. Perempuan yang terpasung dalam kenangan. Cintanya terlalu megah pada sesuatu yang memelihara angkuh di masa lalu. Perempuan yang tak pernah peduli sejuta lisan yang mencemooh dirinya karena terlalu bodoh mencintai seonggok keangkuhan. Kejora hanya tersenyum pada setiap kata pahit yang didengarnya. “Cinta ini titipanNYa, hanya DIA yang berhak membunuh sesuatu yang telah tumbuh di hatiku, Kunang.” selalu begitu ujarannya, selalu saja kata yang sama. Senyum yang sama. Tatapan teduh yang sama. Surat cintaku yang berlembar-lembar hanya mengendap dalam laci waktu, menjadi menguning buram di duduki debu-debu masa. Aku hanya bisa mencintanya dalam hati. sebab cintanya bukan untukku, aku hanyalah sahabat malam baginya. Membuatku selalu merindunya, bahkan saat berada di sampingnya aku pun merasa sangat rindu padanya. Kejora, aku hanya kunang kecil bagimu. Selamanya hanya menjadi kunang kecil sahabat malammu. Izin dari langit yang membuat aku terperangkap dalam malam bersama Kejora, membaca cinta di hati kami masing-masing. Cinta yang tak meniti di setapak yang sama. Dia punya jalan cintanya sendiri, dan aku memutuskan mencintainya dan berjalan pada setapak yang penuh belukar di seberang jalannya. Jasa, dia hanya menganggap bahwa setiaku menemaninya adalah jasaku sebagai sahabat. Dan dia membalas jasa itu sengan senyuman manisnya, kedipan matanya yang lentik, genitnya tawanya yang justru membuatku semakin menebalkan keinginan mencintanya. Konstruksi cintaku yang terbangun dari kekagumanku pada ketegarannya menantang waktu. Kegigihannya menunai janji. Dan yang utama kesetiaannya. Hemmm andai saja itu semua untukku Kejora. “Pulanglah Kunang, ku tahu kau sudah letih.” “Ini tak seberapa di banding keletihanmu Kejora.” “Hanya ragaku, tapi tidak pada hatiku kunang. Tolong berhentilah, jangan menghujatku seperti mereka yang tak mengerti cintaku.” “Cinta katamu? Apa kau pikir hanya kau yang mengerti tentang cinta!” nada suaraku tak terasa mulai meninggi. “Setidaknya cintaku yang tidak kau dan mereka mengerti.” jawabnya masih dengan kelembutan namun terlihat jelas raut wajahnya yang kehilangan kedamaian. “Cintamu? Jelaskan seperti apa wujudnya biar makhluk selain dirimu mengerti.” “Apapun yang kau katakan aku terima, tak perlu kurumuskan cintaku. Suatu saat kau akan paham, dalam akumulasi detik dimana kau menyimpan amarahmu. Sesal telah kau tabung untuk kau kecap esok, setelah kau sadar betapa kau salah menakar harga cintaku.” Kejora beranjak meninggalkan aku bersama malam yang hampir berganti subuh. Bersama bintang-bintang yang memelototiku dengan garang. Hening terkoyak, Dalam bisikan malam, Desah-desah angin singgah meraba resah, Senyummu, Kedipanmu, Genit tawamu, Jejakkan kerinduan, Selamat tidur Kejora, Maaf telah melukai setiamu malam ini. http://www.catatankunangkunang.bahterasyafana.com/kejora-dan-kunang-kunang/

JUST 1 HOUR

Satuu jam sajaaa, Aq butuh dari enam puluh menit tersebut utk hilang ingatan ttg kota itu. Satuu Jam sajaaa, apa perlu dari sekian detik utk berlari dari rasa sakit yg sempat mencengkram cakrawala kota itu?. Satu Jam sajaa, utk melupakan kota yg sempat menyimpan keindahan dan meminangku dalam prinsip hidup. Satu Jam saja, utk meleburkan 2 tahun terakhir yg mati bersama keadaan yg tak ingin ku kenal ... Satuu jam sajaa, diantara detik yg berjalan biarkan aq mempelajari kedewasaan, kebijaksanaan, dan ketegaran ttg hidup. Satu jam sajaa sepertinya aq ingin merasakan kembali derai tawa kota itu. Satu Jam sajaa, aku berharap semua kembali tanpa perlu adanya reinkarnasi dan mesin waktu... Cukup Satu Jam sajaa... Karena satu jam berikutnya aku akan berdiri, dan berlari mengejar matahari diantara keterbatasanku disini.

B R O N Z E

Prinsip itu membunuhku, ketika mereka satu persatu menawarkan rindu Idealisme itu menyeretku menyelam tenggelam dan akhirnya karam Ada ingatan ttg masa2 yg seharusnya binasa bersama badai Kini datang kembali menyerang laksana perang ,,, Huft,,, Aku terjebak pada kekecewaan, dan terjerat dalam lenyapnya kepercayaan, Sekalipun ada setulus rindu yg menyerbu Tetapi aku meragu terbunuh masa lalu Tuhan,,, Berdirikanlah aku pada pijakan tanpa waktu Agar aku bs mengagumi hidup ini tanpa jeda Dan hangatkan aq pada gerimis yg menangis Demi menyambut rindu yg berlari dalam lengkungan pelangi di malam hari.

PERNAHKAH ??

Pernahkah kalian spontan mengingat seseorang ketika terbangun dari tidur??? Saya pernah bahkan Setiap hari.. Pernahkah kalian mencintai tanpa tahu lebih dulu caranya berhenti??? Saya pernah... Sampai detik ini... Pernahkah kalian dengan tahu dirinya menepi sebelum benar-benar patah hati??? Saya pernah..dan Entah ini sudah yang keberapa kali.. Pernahkah kalian tetap berdiri meski telah dipatahkan berkali-kali??? Saya pernah... Dan kalian tahu rasanya.. Sakitnya setengah mati !! Pernahkah kalian menebalkan wajah ketika upaya yang sudah dilakukan dengan susah payah justru disambut megah oleh pengabaian paling sampah??? Saya pernah dan Hampir menyerah !! Dari sekian rasa itu banyak hal yang aku butuhkhan.. Aku butuh pasir yang bersedia kugenggam erat dengan caraku. Aku butuh pasir yang akan terus ada, apapun keadaannya. Aku butuh pasir yang akan terus duduk diam di tempatnya tanpa mencari celah ke mana harus melarikan diri dari pemiliknya Aku butuh pasir yang tak akan ke mana-mana meski aku menggenggamnya terlalu lama. Ketika semua itu telah ku dapatkhan..hanya satu tujuanku..yaitu : " Aku ingin merasa digenggam dengan baik seperti aku menggenggammu saat ini "

Jumat, 06 September 2013

: )

semuanya sudah cukup dan aku bersyukur memiliki kamu.

Terima kasih buat kamu yang selalu ada disetiap air mata dan tawaku,

Untuk kamu yang selalu setia disampingku ketika tak seorang pun memperdulikan aku

Kamu yang selalu ada mendukung setiap langkah dan inginku

Kamu yang selalu sabar menghadapi kerasnya hatiku

Kamu yang selalu ada untuk menggenggam tanganku

Kamu yang tak pernah lelah berhenti menghadapu keegoisanku

Kamu yang selalu menempatkan aku di hati,

Kamu yang selalu membuatku kuat menghadapi hidup.

Terima kasih untuk kesetiaan tak terhingga

Terima kasih telah menjadikan aku sempurna

Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini

Kau Hidup dan Matiku

Jelaskan padaku, haruskah jalan ini kulalui?
gelap, kelam, tanpa kau disini
Jelaskan padaku, mengapa takdir ini harus terjadi?
Katakanlah!!
Mengapa secepat ini surga menginginkanmu kembali?
Setelah aku benar-benar mengerti arti mencinta
Mengerti hadirmu dalam hidupku

Menangispun aku tak mampu
Gilanya diriku tanpamu
Remuk jantungku, hatiku
Denyut nadiku tak lagi berirama
Tanpa alunan melodi cintamu

Tuhan...
Kembalikan dia padaku
Aku tak sanggup hidup sendiri tanpa nya
Mengapa harus dia? Mengapa bukan aku saja?
Dimana surga-Mu Tuhan?
Bisakah aku menggantikan posisinya?

Aku merindukan hadirnya disisiku
Bisakah ku putar waktu?
Aku ingin mengulang saat indah bersamanya

Tuhan...
Kini penjagaanku telah usai
Kini ku serahkan dia pada-Mu
Aku yakin, dia bahagia bersama-Mu

Tuhan...
Sampaikan rasaku padanya
Rasa yang sedikitpun tak pernah padam, dan takkan pernah pudar
Ijinkan pertemuan ini terulang kembali di kehidupan kekal
Dan aku mohon, jangan ciptakan sebuah perpisahan
Karena aku sangat mencintainya


07 September 2013
Siang 10.27

Ujung ujungnya kembali di KAMU

Pernah nggak kalian denger suara orang abis itu semua kalang kabut ?? saya pernah..!!

Yeaah...
Itu yang aku alami beberapa bulan ini di hubungan percintaan ku..
BERTENGKAR-EG0-BUBAR....
Itu SIKLUS yang akhir2 terjadi..

Kesandung. jatuh. tersungkur. mematung. terpuruk. lebur. terkubur...

''Rasanya sudah capek saya , jika capek perlu istirahat atau berhenti , Dan mungkin berhenti itulah yg tepat ... Semoga yg terbaek ini Amin''
Itu ucapan yang berulang kali dilontar khan DIA..dan terus menerus terngiang di kuping..

DITOLAK ketika kita tengah membawa sebuah kebahagiaan kecil untuknya...itu SAKIT rasanya !!!
Kalau memang kali ini gagal lagi..setidaknya saya sudah banyak belajar dan berusaha..ya khan Tuhan ???
Cuma itu dan cuma itu yang aku ucapkan saat itu..
Mungkin aku tak sehebat mereka semua yang bisa kuat ataupun tegar ketika ada masalah..
Dan hari itu aku belajar tentang arti BERKORBAN !!!

Dalam pikiranku, aku hanya ingin berusaha untuk menjadi seseorang yang baik. Aku tak ingin menyakiti siapapun yang ada di sekitarku.
Tapi nyatanya...hati ku pun sendiri aku sakiti dengan hal2 seperti ini.

Namun nyatanya menjadi orang baik tak menjamin bahwa kau pun akan mendapatkan yg terbaik. Menjadi seseorang yg baik slalu memaksaku tuk mengalah.

 Menjadikanku seseorang yg slalu kalah..
 Dan 1 lgi knyataan yg sulit kuterima bahwa tak slamanya wajah yg kutemui dihidupku kan menawarkan ketulusan..

 Jika cukup cerdas dan dewasa, fikirkan solusi dan bertindak... bukan sibuk membahas masalah dan mencari siapa yg salah.._Bunda :)
Itu advice Bunda yang sangat menguatkan buatku saat itu..

Saat melihatmu pergi dengan membanting pintu, Tuhan berbisik padaku, di akhir kalimatNya, kataNya, kau akan kembali dengan mengetuk pintu.:)
Yaah...Aku meng-AMINI nya ;)

 Kukira Tuhan tidak mendengar doaku, ternyata, selama ini Dia asik mengamati seberapa hebat usahaku..

Dan...FINALLY..
Ujung ujungnya kembali di KAMU..;)




Metha,,07 September 2013
Pagi 10.14