Laman

Rabu, 27 November 2013

Tuhan, aku kangen Bunda

Dear bunda. How’s life there in heaven? I guess it must be fun, a lot of fun. You are good, and always will be.. 

Dear Bunda..
Bisakah kau meminta izin pada Tuhan untuk menemuiku sekali ini saja?
Malam ini, atau besok pagi, pagi-pagi sekali
Aku kangen, pengin ngobrol
30 menit saja
Terlalu lama? 10 atau 5 menit juga tak apa-apa
Asal kau dapat izinNya

Dear Bunda..
Mungkin jarak antara langit dan bumi terlampau jauh
Jadi Tuhan sulit memberi izin
Padahal, seringkali aku merasa
Kau hanya pergi sebentar
Dan besok pulang lagi
Nyatanya tidak kan?

Dear Bunda..

Emmm..bagaimana kalau kau meminta izin untuk sekedar menelponku dari sana?
Bisakah?
Signal dan pulsa bukan masalah, kupikir.
Can we just say ‘hi’ to each other?
Aku kangen, pengin dengar suara bunda
Gampang kan?
Ahhh, sepertinya sangat sulit meminta izin pada Tuhan
Mungkin tidak hanya karena jarak
Tapi karena langit dan bumi memang tidak sama
Kata orang-orang, beda alam
Trus bagaimana?
Aku kangen bunda, sungguh aku kangen
Aihh, sudahlah!
Biar aku saja yang izin pada Tuhan
Agar bunda datang malam ini, lewat mimpi
Itu saja
Tuhan, tolong kabulkan!
Aku kangen bunda
Aku kangen bunda
Aku kangenBunda

SAYANG DAN CINTA

Sebuah kata yang sering kita ucap ,
“sayang, cinta, dan ketulusan”
Aku masih tak mengerti seperti apakah sayang dan cinta yang tulus itu? Apakah dia seperti bulatan coklat yang manis ketika kita memakannya ataukah pahit seperti coklat yang harganya mahal?
Sayang dan Cinta yang tulus. Seperti apakah wujudnya?
Aku selalu bertanya, siapa yang menyayangiku dengan tulus? Siapa pula yang mencintaiku dengan tulus? Mereka selalu bilang, “kamu masih terlalu kecil untuk membicarakan masalah sayang dan cinta”.
Lalu, siapa yang pantas membicarakan tentang perasaan sayang dan cinta?
Mereka orang-orang yang mengakui dirinya dewasa? Bukankah mereka sendiri sejujurnya tak mengerti?
Mereka hanya pura-pura tahu karena menurut fase nya, mereka sudah wajib tahu? BOHONG!
Aku sering melihat banyak orang-orang dewasa yang masih bimbang dalam masalah cinta, artis-artis yang cerai kemudian mereka bilang “mungkin dia bukan jodoh saya”.
Lalu, apa arti ucapan sayang dan cinta yang mereka ucapkan ketika mereka menjalin hubungan dan akhirnya memutuskan untuk menjalin sebuah pernikahan? Siapa yang berhak membicarakan tentang perasaan itu?
Aku tak mengerti seperti apa rasa sayang dan cinta yang tulus itu. Hanya ucapan atau berwujud. Sampai saat ini yang aku tahu, ketulusan itu memberi bukan meminta. Sayang itu melihat dia tersenyum bahagia walau tak bersama kita. Dan, cinta itu menjaga.
Sayang dan cinta, apakah semua itu sebuah rasa ingin memiliki atau obsesi, aku tak pernah mengerti.
Mereka mencintai dan menyayangi, mereka ingin memiliki dan akhirnya menjadi sebuah obsesi. Ya, mungkin sepeti itu.

Menyayangi dan mencintai dengan tulus sempat terpikirkan dalam benakku ia semacam :
ketika aku menahan sakit dan berbahagia melihatnya bahagia dengan yang lain walau dengan bersembunyi di balik pohon

TERTATIH MEMPERTAHANKANMU

Mungkin ini sudah kita bicarakan sebelumnya bahwa merindukanmu tidak pernah ada jeda. Aku tahu kalau pertemuan itu akan ada, pastinya ada. Kalau ada bagian-bagian rindu yang tak tersampaikan, mungkin aku sudah begitu resah dengan adanya kita. Kadang aku ragu untuk mempertahankan semua yang aku kira tadinya baik-baik saja, seimbang. Malah pada akhirnya tidak begitu. Bagimu aku tidak boleh mengeluh. Perlu kau ingat bahwa aku wanita biasa, bukan perindu murahan, namun selayaknya orang lain, aku juga ingin diperhatikan sama seperti teman-temanku juga. Kau memang menahanku, tapi dengan rasa ketidakpedulianmu disana kau seakan melepaskan sesuatu yang sebenarnya kau sayang, melepas dengan perlahan, ya kau seakan melepaskanku dengan perlahan.

Resah ini sewajarnya, tapi kau buat keadaanku semakin tak baik-baik saja. Kau seakan tak ingin berpihak pada keinginan kalau kau mempertahankan hubungan kita. Aku tak ingin banyak menuntut semua waktumu, karena memang aku tak berhak meminta. Aku sadar diri akan aku yang belum sepenuhnya kau miliki, dan apalagi kau terlihat seakan tak ingin mempertahankan.

Aku tak ingin berhenti sampai disini, semua sudah terlalu banyak perjuangan yang selama ini kita lakukan. Pertemuan yang kau sendiri berjuang mengalahkan rasa lelahmu, untuk menemuiku. Aku tak ingin menyerah karena berjuang sendiri. Tersadar sudah berapa banyak pengorbanan yang kau lakukan untukku, menemuiku.

Aku sadari keluhanku yang menurutmu kelewatan. Yang aku sadari hanya kesibukanmu atau keacuhanmu yang kelewatan, tidak menghargai siapa yang merindukanmu disini. Lalu apa  alasan bagiku untuk mempertahankan sesuatu yang sudah tak seimbang? Bayangkan saja, dalam seminggu berapa kali kita berinteraksi satu sama lain, jarang, terhitung dengan jari satu tangan. Sedikit bukan?  Apa alasan yang membuatku yakin kalau kau baik-baik saja disana, sedangkan aku tak tahu keberadaanmu dimana, kondisimu seperti apa, kau tak mengabariku bukan? Aku bukan membuat kamu terlalu benar-benar terkekang dengan aku disini, aku ingin kau hargai rasa kekhawatiranku.

Ada beberapa cara yang sudah kulakukan, namun itu tetap saja gagal untuk membuat kita baikan, mungkin disekitarmu ada sedikit cara untuk membuatmu lupa,kau mengabaikanku. Aku iri dengan dia, siapapun itu, orang yang seharusnya kau abaikan, karena aku ada disini, aku kekasihmu.

Kau mungkin sadar juga kalau kita tidak pernah menyelesaikan masalah pada saat keadaan kita jauh seperti ini, entah aku atau kamu yang egois, atau kita berdua. Kita seharusnya belajar dari beberapa kesalahan yang pernah fatal pada diri kita. Terlalu mudah menerima perhatian dari orang lain, atau malah kau sendiri yang memberikan perhatianmu pada mereka?

Kau belum terlambat, sebelum semuanya aku yang harus mengalah, kau punya banyak waktu yang seharusnya kau gunakan untuk memperbaiki hubungan  kita. Terserah, aku bukan pasrah tapi aku kembalikan hubungan ini ke kamu. Kau akan memperbaikinya atau tidak.