Aku selalu ingat bagaimana gerak keningmu melipat kerut saat senyum bulan sabit mengembang di pipimu.
Aku selalu ingat bagaimana suaramu memudar saat kau begitu terpingkal setiap kali kita menonton film lucu bersama.
Aku
selalu ingat bagaimana lesung di pipimu menusuk tepat di hatiku setiap
kali aku bilang; jangan pergi, jangan pernah hilang-karena aku sekarang
sendirian.
Karena kamu mengira, perpisahan adalah hal yang mustahil kita temukan.
Karena dulu, kamu selalu merasa bahwa ketakutanku itu adalah sebuah hal yang lucu.
Biasanya aku hanya takut gelap. Tapi kali itu, aku begitu takut kehilanganmu.
Aku selalu ingat bagaimana hidup begitu ringan kuhadapi saat aku memiliki sesuatu untuk kutunggu-tunggu.
Menunggumu
tiba, menunggu kabarmu sampai di rumah, menunggu telponmu, menunggumu
membalas pesanku, menunggumu tersenyum, menunggumu menyelesaikan
kesedihanku.
Aku selalu ingat, ketika sebelumnya, menunggu tak pernah semenyenangkan ini.
Aku tak berharap kamu masih mengingatnya juga. Aku hanya berharap kamu tidak keberatan kalau aku, masih belum
kelu membicarakannya pada udara dan seisinya.
Ada
kalimat yang begitu aku sukai yang keluar dari bibirmu, yaitu saat kamu
bilang; aku tak akan pernah pergi. Bila aku pergi darimu, yakinlah aku
memilih itu bukan karena benar menginginkannya.
Kamu tahu, kalimat itu yang selalu membuatku mampu memaafkanmu.
Ada
kalimat yang begitu aku sukai yang keluar dari bibirku, yaitu saat aku
bilang; aku percaya kalau setiap kehilangan yang terjadi dalam hidup,
adalah kehilangan yang akan menjelma syukur di hari yang lain.
Kamu tahu, kalimat itu yang selalu membuatku mampu memaafkan diriku.
Bila kelak ada lagi pagi yang bisa kita awali dengan bahagia.
Jangan lupa, bahwa kehilangan ini pernah mengantar kita sampai ke sana.
Dan bila syukur itu pun telah tiba, peluk aku (lagi) dengan ke-baik-baik sajaanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar